SENJA DI BUNGA SALJU SEOUL
Mentari pagi tanggal 20 Juli 2017 menyapa Seoul dengan sinarnya yang hangat, menerangi atap-atap bergaya hanok di kejauhan. Bagi Ahn Na-ri (안나리), hari itu terasa seperti lukisan pagi yang damai. Dengan seragam Sekolah Menengah Atas St. Cecilia Seoul (서울 성 체칠리아 고등학교) yang rapi dan senyum tulus, ia bergegas menuju gerbang sekolah yang dihiasi bunga mugunghwa. Na-ri, seorang gadis yang teguh semangatnya, memiliki keteguhan hati sehangat mentari pagi, meskipun ia menyimpan perjuangan kesehatan yang tak tampak.
Sejak usia belia, Na-ri didiagnosis dengan Ataxia. Bayangan kejang serta pingsan secara mendadak yang datang tanpa peringatan seringkali membuatnya merasa rapuh, seperti kelopak bunga yang diterpa angin kencang. Namun, Na-ri tidak pernah membiarkan penyakitnya merenggut semangatnya. Sekolah adalah taman ilmu baginya, tempat ia menanam benih pengetahuan dan meraih cita-cita.
Pagi itu, di ruang kelas yang tenang, Na-ri masih mampu mengikuti pelajaran dengan saksama. Ia mencatat setiap penjelasan seonsaengnim (선생님) guru, berusaha memahami rumus-rumus matematika dan keindahan sastra Korea. Namun, perlahan, kelelahan yang luar biasa mulai menyerang tubuhnya. Kekuatan yang biasanya ia rasakan seolah menguap, meninggalkan rasa lemas dan pucat yang mengkhawatirkan. Rona cerah di pipinya memudar, digantikan oleh warna pucat seperti salju pertama.
Awalnya, Na-ri mencoba menyembunyikannya, menggigit bibir dan menarik napas dalam-dalam. Ia ingat pesan ibunya untuk selalu bersyukur dan tidak mengeluh. Namun, tubuhnya semakin memberontak. Rasa dingin yang menusuk mulai merayapi kedua telapak kaki dan tangannya, membuatnya menggigil meskipun suhu ruangan cukup nyaman.
Dengan langkah tertatih, Na-ri memberanikan diri menghadap seonsaengnim. Dengan suara yang hampir berbisik, ia meminta izin untuk pulang lebih awal. Ada gurat kesedihan dan kekhawatiran yang terpancar dari matanya yang biasanya berbinar. Seonsaengnim, yang melihat perubahan drastis pada wajah Na-ri, segera mengizinkannya dengan raut wajah prihatin.
Perjalanan menuju rumah terasa seperti ziarah yang panjang dan berat. Setiap langkahnya terasa dipenuhi beban tak kasat mata. Sesampainya di rumah, Na-ri mencoba memulihkan diri. Ia menyantap makanan yang sudah disiapkan ibunya, berharap nutrisi dapat mengembalikan energinya yang hilang. Ia juga berbaring di tempat tidur, memanjatkan doa agar tubuhnya segera pulih.
Namun, malam menjelang, kondisi Na-ri bukannya membaik, justru semakin mengkhawatirkan. Pucat di wajahnya semakin mencolok, dan dingin di ujung tubuhnya terasa semakin menggigit. Ibunya, yang sedari tadi mengawasi dengan cemas, tidak bisa lagi menahan air mata dan rasa takutnya. Keputusan untuk membawa Na-ri ke rumah sakit menjadi satu-satunya harapan.
Gambar: Ibunya Na-ri terlihat memanggil petugas rumah sakit saat sudah sampai di depan IGD.
Malam itu, jarum jam menunjukkan pukul sepuluh malam ketika Na-ri tiba di ruang gawat darurat Rumah Sakit St. Lazarus Seoul (서울 성 라자로 병원) Suasana hiruk pikuk dan aroma disinfektan menyambut kedatangannya. Para perawat dengan cepat membantunya berbaring di ranjang pemeriksaan. Seorang dokter dengan wajah tenang segera menghampirinya, memulai pemeriksaan dengan mengukur tekanan darah dan detak jantungnya.
Saat dokter melakukan serangkaian pemeriksaan, sebuah fakta mengejutkan terungkap. Bukan hanya epilepsi yang menjadi beban di tubuh Na-ri. Hasil tes menunjukkan bahwa kadar gula darahnya sangat rendah, sebuah kondisi yang sama berbahayanya dan sama sekali tidak ia duga.
Air mata Na-ri mengalir tanpa suara, membasahi pipinya yang dingin. Ia merasa begitu letih dengan semua perjuangan yang harus ia hadapi. Tubuhnya terasa seperti medan pertempuran abadi, di mana penyakit datang dan pergi tanpa permisi. Di tengah dinginnya lampu ruang gawat darurat, Na-ri merasa begitu kecil dan rentan.
Namun, di balik air mata kepedihan, berkobar nyala semangat dan keteguhan hatinya. Na-ri tahu, ia tidak boleh menyerah. Ia harus kuat, demi cintanya kepada keluarga, dan demi impian-impian yang masih ia genggam erat di hatinya. Malam itu, di ranjang Rumah Sakit St. Lazarus, Na-ri kembali membulatkan tekad dan memohon kekuatan. Ia adalah Ahn Na-ri, gadis pejuang dari Seoul, dan dengan segenap hatinya, ia akan terus berjuang untuk menemukan secercah harapan di tengah badai penyakit yang menerpanya.
Malang, 18 Maret 2025
*Cerita ini dibuat terinspirasi dari sinetron rohani yang hits. Namun di ubah sedikit dengan kosakata bahasa Korea. Hal ini digunakan sebagai cara belajar bahasa Asing.
*Gambar dibuat dengan aplikasi.
Komentar
Posting Komentar