DASAR-DASAR LOGIKA PART 2

PENGENALAN DAN PENGETAHUAN

Manusia dengan akal budinya mengenali realitas yang ditemui melalui atau dengan panca indera manusia. Dengan penglihatan, pembau, perasa dan lainnya, manusia mencoba untuk memahami seluruh benda atau segala sesuatu yang dihadapi di dunia ini. 

Pengenalan manusia terdiri dari dua unsur pokoknya, yaitu pengenalan simbolik dan pengenalan intelektual. Pengenalan simbolik lebih bersifat konkret dan figuratif. Pengenalan simbolik lebih akan menitikberatkan pada kemampuan manusia untuk mengenali sistem tanda yang dibuat konkret oleh manusia. Pengenalan intelektual lebih bersifat abstrak dan spekulatif. Pengenalan intelektual lebih akan menitikberatkan pada kemampuan manusia untuk merumuskan dan menganalisa sistem intelektual yang sudah dipunyai oleh setiap manusia.

Oleh sebab itu, pengenalan selalu membutuhkan penalaran. Artinya, bahwa pengenalan membutuhkan suatu sistematika cara berpikir yang disepakati secara lurus dan benar. Pengenalan selalu menyertakan keyakinan. Pengenalan juga mengandaikan penalaran. Kombinasi pengenalan dengan keyakinan dan penalaran akan membentuk pengetahuan yang kita punyai sekarang.



BENTUK PEMIKIRAN MANUSIA

Dalam pemikiran manusia, setidaknya kita mengenal bahwa pemikiran manusia terdiri dari 2 bentuk utama. Bentuk pertama pemikiran manusia lebih bersifat pada bentuk material pemikiran manusia. Dalam hal ini, bentuk pemikiran manusia lebih berwujud bahasa. Bentuk kedua pemikiran manusia lebih bersifat pada bentuk logis pemikiran manusia. Bentuk logis pemikiran manusia lebih terdiri pada tiga unsur pokok. 



Ketiga pokok kegitan akal budi itu adalah:

  1. Menangkap sesuatu sebagaimana adanya. Artinya, menangkap sesuatu tanpa menilai: mengakui atau mengingkarinya. Panca indera menangkap dan mengolah realitas tanpa memerlukan penilaian tentang kebenaran dan kesalahan realitas yang ditangkap. Hal ini juga sama saja dengan proses melihat, mendengar, membau, mencium atau meraba segala sesuatu yang dihadapi oleh manusia.

  2. Memberikan keputusan. Artinya, manusia mulai menghubungkan pengertian yang satu dengan pengertian lainnya  atau memungkiri hubungan tersebut. Proses penarikan hubungan antara satu realitas dengan realitas lainnya mempunyai konsekuensi apakah memang sebuah realitas memang benar atau salah.

  3. Merundingkannya, artinya, menghubungkan keputusan sedemikian rupa, sehingga dari satu keputusan atau lebih, orang sampai pada kesimpulan.

Menangkap sesuatu sebagaimana adanya berarti kita merumuskan pengertian. Pengertian lebih mengandaikan pengalaman inderawi. Realitas yang dikenali oleh indera dicoba untuk diolah dan diberi nama. Dengan demikian, ketepatan penyerapan dipengaruhi oleh ketepatan indera manusia menginterpretasikan realitas. Setiap pengertian selalu mempunyai luas dan isi. Luas artinya ruang lingkup realitas. Isi berarti karakter atau hakikat dari realitas tertentu.

Keputusan adalah proses penilaian dan pengambilan sikap rasional atas suatu realitas. Pengertian tidak berhenti. Pengertian merangkaikan kata atau term, karena tidak pernah ada pengertian yang berdiri sendiri dalam pikiran. Pengertian kemudian dirangkai untuk menjelaskan hubungan antar pengertian (dalam logika terwujud dalam subjek dan predikat). Hubungan antar pengertian tersebut berisi pengakuan dan pengingkaran. Oleh sebab itu, keputusan selalu mengandaikan term subjek (yang dijelaskan), term predikat (yang menjelaskan) dan kata penghubung.

Merundingkan adalah proses penalaran (reasoning). Penalaran adalah observasi empiris yang membuat klasifikasi atau penggolongan yang diperlukan. Sejumlah proposisi (pernyataan yang mengandung keputusan) diakui sebagai kebenaran. Sejumlah proposisi juga dirundingkan untuk ditarik kesimpulannya. Setiap penalaran mempunyai logika penarikannya, melalui pendekatan induktif atau pendekatan deduktif.


  1. BAHASA, PENGERTIAN DAN LOGIKA

Sebagaimana kita pahami dalam bab-bab sebelumnya, terlihat dengan sangat jelas relevansi antara bahasa dan logika. Bahkan dapat dikatakan bahwa hubungan antara bahasa dan logika adalah hubungan yang saling mengandaikan. Secara pendek dapat dirumuskan sebagai berikut: bahasa mengandaikan logika sebagai alat bantu menyusun, menggunakan, dan mengembangkan bahasa secara lebih baik dan ilmiah, sebaliknya logika mengandaikan bahasa sebagai instrumen ekspresinya.

Berhubungan dengan pembicaraan yang sudah pernah dibahas, di dalam konteks logika sendiri, cara kerja akal manusia juga harus dilihat dalam perspektif tahap-tahap pemikiran yang benar.  

Kalau mau dilihat sebagai sebuah keseluruhan, aktivitas berpikir manusia terbagi dalam  beberapa tahap. Aktivitas berpikir meliputi proses pengenalan dan pengertian yang meliputi pengenalan inderawi dan pengenalan rasional, proses keputusan yang memberikan penilaian atas pengenalan yang dilakukan, proses kesimpulan di mana keputusan-keputusan tersebut disusun untuk mendapatkan pengetahuan yang lebih pasti. Oleh sebab itu, dalam logika terdapat unsur-unsur pokok yang patut digarisbawahi. Unsur-unsur pokok itu adalah pengertian, klasifikasi dan definisi.


PENGERTIAN

Pengertian adalah hasil pengenalan manusia terhadap unsur-unsur yang ada dalam sebuah realitas. Dapat dikatakan bahwa pengertian merupakan hasil serapan akal atas isi dan luas realitas yang dikenalnya. Proses pengertian merupakan hasil rasional dari pengalaman empirik manusia tentang sesuatu objek secara berulang kali, perlahan-lahan akal budi berusaha mengerti atau menangkap arti objek tersebut.

Definisi di atas masih memperlihatkan bahwa pengertian dalam arti yang sebenarnya bersifat abstrak. Untuk menyatakan atau mengekspresikan pengertian, dibutuhkan satuan bahasa yaitu kata. Dalam perspektif logika, kata diandaikan mempunyai makna dan fungsi sebagai tanda ekspresi dari suatu pengertian. Dengan pengandaian di atas maka kata disebut juga sebagai term.


ISI DAN LUAS PENGERTIAN

Dalam setiap pengertian terdapat dua unsur pokok yang memang harus ada dalam setiap pengertian. Unsur-unsur pokok itu adalah isi dan luas pengertian. Persepsi logika menyatakan bahwa isi pengertian adalah semua unsur yang terkandung dalam suatu pengertian. Dapat dikatakan bahwa isi pengertian merupakan seluruh elemen pokok penyebab, pengembang dan pemelihara sesuatu. Isi pengertian merupakan hasil penafsiran proses pengenalan manusia atas sebuah objek.

Luas pengertian adalah ruang lingkup yang melingkupi keseluruhan dimensi isi dan unsur pokok sebuah realitas. Tentu saja, ruang lingkup yang dibuat oleh manusia merupakan ruang lingkup yang bisa ditunjukkan oleh atau dengan pengertian tersebut.

Dapat dikatakan dengan demikian ada hubungan yang saling mengandaikan antara isi dan luas pengertian. Isi adalah semua saja yang ada dalam luasan tertentu. Luas pengertian merupakan batas unsur-unsur yang ada dalam setiap pengertian. Hubungan antara luas dan isi dapat dinyatakan sebagai berikut: pertama, semakin luas (besar) wilayah suatu pengertian, semakin sedikit (kurang) isi pengertian tersebut. Akibatnya adalah realitas atau objek yang ditunjuk menjadi semakin abstrak. Kedua, semakin sempit (kecil) wilayah suatu pengertian, semakin banyak (padat) isi pengertian tersebut. Akibatnya adalah realitas atau objek yang ditunjuk menjadi semakin konkret.

Contoh:

  1. Manusia adalah makhluk

  2. Manusia adalah makhluk hidup yang berakal budi, berhati nurani, berkehendak bebas, rasional, berambut hitam, berhidung mancung……


TERM

Term merupakan kata yang juga adalah ungkapan fisis dari sebuah pengertian. Term bisa terdiri dari satu atau lebih kata. Term selalu mempunyai makna dan mempunyai posisi atau fungsi dalam sebuah proposisi. Fungsi term biasanya menjadi subjek atau predikat sebuah proposisi. Term merupakan bagian dari proposisi yang menyatakan secara verbal keputusan.

Klasifikasi term dapat dibagi menurut luasannya, jumlah kata, makna dan sifatnya. Klasifikasi term menurut luasannya dapat dibagi dalam tiga golongan term, yaitu term universal, term partikular dan term singular

  1. Term  universal adalah term yang meliputi keseluruhan luas, tidak terkecuali. Contoh: semua orang, seluruh kelas, tak sebiji pun, tak ada orang India dsb.

  2. Term partikular adalah term yang menunjukkan hanya sebagian dari keseluruhan luasnya. Setidak-tidaknya satu, sebesar-besarnya tak terbatas tapi tidak keseluruhannya. Contoh: banyak pengunjung, tidak semua laki-laki, beberapa gedung, sebuah mangga dsb.

  3. Term singular adalah term yang meliputi jelas-jelas menunjuk pada satu realitas belaka. Contoh: Pak Amir, Gadis itu, Data ini, laki-laki paling gendut tersebut dsb.

Berdasarkan jumlah katanya, term dapat dibagi dalam dua golongan utama, yaitu term tunggal dan term majemuk.

  1. Term tunggal adalah term yang terdiri dari satu kata saja. Contoh: buku, semut, pohon, Amir.

  2. Term majemuk adalah term yang terdiri dari lebih satu kata tapi tetap membentuk satu kesatuan makna. Contoh: Mesin ketik, rumah makan, jalan tol, toko serba ada, arena pacuan kuda dsb

Berdasarkan makna termnya, maka term dapat dikelompokkan dalam tiga pembagian utama, yaitu term univok, term ekuivok, dan term analog.

  1. Term univok adalah term yang digunakan untuk mengerti dua realitas atau lebih tapi term tersebut tetap memakai bentuk dan bunyi yang sama. 

  2. Term ekuivok adalah term yang digunakan pada dua pengertian yang berbeda atapi memakai term yang berbentuk dan berbunyi sama.

  3. Term analog adalah term  yang digunakan mempunyai bentuk dan bunyi yang sama untuk menggambarkan dua realitas yang sama sekaligus berbeda. 

Berdasarkan sifat term, maka term dapat dibagi dalam klasifikasi term distributif dan term kolektif.

  1. Term distributif adalah term yang pengertian inherentnya dapat dikenakan kepada semua anggota yang tercakup di dalamnya, satu demi satu tanpa kecuali.

  2. Term kolektif adalah term yang pengertian inherentnya tidak dapat dikenakan pada setiap anggota secara individual tapi kepada kelompok sebagai suatu keseluruhan.


KLASIFIKASI

Karena setiap pengertian mempunyai keluasan dan isi maka penting dalam logika sebuah proses logis yang disebut dengan klasifikasi. Klasifikasi adalah proses bagaimana sebuah realitas dibagi-bagi dalam bagian-bagian kecil pengertian baik berdasarkan isi atau luasannya. Klasifikasi yang dilakukan dalam proses logika adalah klasifikasi logis. Klasifikasi logis adalah pembagian konsep atau pengertian. Klasifikasi logis tetap memperlihatkan hubungan antar pengertian yang dibagi dalam bagian-bagian yang lebih kecil. Keseluruhan realitas menjadi predikat pada setiap bagian-bagiannya.


JENIS KLASIFIKASI

Klasifikasi pengertian dapat dilakukan dengan melihat kuantitas sub klas yang diturunkan dari klas induknya. Dalam perspektif tersebut maka klasifikasi dapat dibagi dalam dua golongan besar, yaitu klasifikasi sederhana dan klasifikasi kompleks. Klasifikasi sederhana adalah klasifikasi dimana jumlah sub klasnya hanya dua. Jenis klasifikasi ini disebut juga klasifikasi dikotomis. Klasifikasi kompleks jika jumlah subklasnya lebih dari dua.


PRINSIP DAN HUKUM KLASIFIKASI

Pertama, klasifikasi harus lengkap. Prinsip klasifikasi ini mengandaikan bahwa klasifikasi harus benar-benar tidak melupakan subklas yang berada dalam lingkup pengertian yang dimaksud.

Kedua, klasifikasi harus benar-benar memisahkan. Prinsip ini mengandaikan agar batas antar satu subklas dengan subklas lain benar-benar terpisahkan atau terbedakan secara jelas.

Ketiga, klasifikasi harus menggunakan dasar yang sama. Prinsip hukum ini menegaskan tentang apa yang sudah diberikan dalam definisi klasifikasi, setidaknya menyebutkan bahwa klasifikasi harus dilandasi oleh satu prinsip tertentu.

Keempat, klasifikasi harus sesuai dengan tujuan yang dikehendaki. Klasifikasi dilakukan benar-benar memungkinkan tercapainya suatu tujuan tertentu

Kelima, klasifikasi harus dilakukan secara rapih.


PENALARAN & PENYIMPULAN I


Penalaran adalah sebuah proses mental di mana kita (melalui akal budi) bergerak dari apa yang telah kita ketahui menuju ke pengetahuan yang baru (hal yang belum kita ketahui). Atau, kita bergerak dari pengetahuan yang telah kita miliki menuju ke pengetahuan yang baru yang berhubungan dengan pengetahuan yang telah kita miliki.

Semua bentuk penalaran selalu bertolak dari sesuatu yang sudah ada atau sudah kita ketahui. Kita tidak mungkin menalar dengan bertolak dari ketidaktahuan. Selalu ada sesuatu yang tersedia yang kita pergunakan sebagai titik tolak untuk menalar. Titik tolak tersebut kita namakan “yang telah diketahui”, yaitu sesuatu yang dapat dijadikan sebagai premis, evidensi, bukti, dasar bahkan alasan dari mana hal “yang belum diketahui” dapat disimpulkan. Hal yang disimpulkan itulah yang disebut konklusi (kesimpulan). Sehingga bisa dikatakan bahwa penalaran dapat juga disebut 'berpikir konklusif', yaitu berfikir untuk menarik kesimpulan.

Jadi, penyimpulan dapat dipahami sebagai sebuah proses mental di mana kita bergerak dari satu proposisi atau lebih menuju ke proposisi lain yang mempunyai hubungan dengan proposisi yang sebelumnya. Ini merupakan proses penggabungan sejumlah proposisi, sehingga menghasilkan konklusi yang diturunkan darinya.

Sebagaimana telah didiskusikan, salah satu fungsi bahasa adalah fungsi logis, dimana bahasa dipergunakan untuk menalar, menganalisis, menjelaskan, serta berargumen. Penalaran yang benar melibatkan adanya hubungan antara premis dan kesimpulan, dan adanya hubungan (korespondensi) antara pernyataan dan fakta (secara aktual ada atau terjadi). 

Perhatikan contoh berikut:

1. - Mahasiswa suka berdiskusi

- Berdiskusi adalah kegiatan ilmiah

Jadi, mahasiswa suka kegiatan ilmiah

Penalaran seperti ini adalah benar dan valid, sebab premis dan kesimpulannya berhubungan sesuai dengan aturan yang berlaku (logika). 


2. - Ayam suka bernyanyi

- Bernyanyi itu menghibur hati

Jadi, ayam suka menghibur hati

Contoh ini, penalarannya valid tapi kesimpulannya salah. Penalaran tersebut valid karena kesimpulan diturunkan dari premis yang tersedia. Namun, kesimpulannya salah sebab baik premis maupun kesimpulannya tidak sesuai dengan fakta. Atau dengan kata lain, tidak ada korespondensi antara pernyataan dan fakta.


3. - Semua anjing mempunyai ekor

- Semua kucing mempunyai ekor

Jadi, anjing dan kucing itu tidak ada bedanya

Pada contoh ini, antara premis dan kesimpulan tidak ada hubungan konsekuensial. Kesimpulan yang terbentuk justru tentang fakta yang lain, yakni tentang perbedaan antara anjing dan kucing. Dengan kata lain, kesimpulan tidak diambil dari premis yang ada. Menurut faktanya, di antara anjing dan kucing terdapat satu ciri khas yang berlaku umum, yaitu mempunyai ekor. Meskipun demikian, kita juga tidak dapat langsung berkesimpulan bahwa semua anjing identik dengan kucing (karena sama-sama mempunyai ekor).

Jadi, penalaran yang logis selain memperhatikan validitas (bentuk) sekaligus materi (kebenaran).


A. Jenis-jenis Penyimpulan

Secara garis besar ada dua macam cara menarik kesimpulan:

1. Penyimpulan langsung,

Adalah penyimpulan di mana kita secara langsung dan begitu saja menarik kesimpulan dari sebuah premis atau satu-satunya premis yang ada. Penyimpulan semacam ini merupakan sebuah proses di mana kita berpikir atau menemukan sebuah proposisi baru atas dasar proposisi yang sudah kita miliki, yang berbeda dari yang baru namun tetap merupakan proposisi yang harus mengikuti ide atau gagasan yang terdapat di dalam proposisi lama.

Penyimpulan langsung sifatnya terbatas, yaitu hanya tentang sebuah proposisi baru dan bukan tentang sebuah kebenaran baru. Atas dasar kebenaran atau ketidakbenaran sebuah proposisi, kita menyampaikan kebenaran atau ketidakbenaran proposisi yang lain. Jadi, jika kita menyatakan bahwa “orang Indonesia bukan orang Amerika”, maka dapat disimpulkan “orang Amerika bukan orang Indonesia”. Penyimpulan ini, sebagaimana akan dibahas pada pertemuan lebih lanjut, disebut pembalikan atau konversi. Contoh lain: “Semua orang Jawa adalah orang Indonesia”. Jika pernyataan ini benar, berarti “tidak ada satu orang pun orang Jawa yang adalah orang Indonesia” adalah salah.


2. Penyimpulan tidak langsung

Penyimpulan tak langsung adalah proses penyimpulan di mana kita menarik sebuah kesimpulan melalui dua premis atau lebih yang dipersatukan. Penyimpulan ini merupakan proses akal budi membentuk sebuah proposisi baru atas dasar penggabungan proposisi-proposisi yang lama. Inilah yang disebut penalaran dalam arti sempit. Penalaran ini bermula dari sebuah kebenaran tertentu menuju pada kebenaran yang baru yang berbeda dari yang lama, tetapi tetap mendasarkan diri pada kebenaran lama tersebut.

Contoh:

- Semua orang Jepang berasal dari bangsa Ainu.

- Hayashi adalah orang Jepang.

- Jadi, Hayashi adalah keturunan bangsa Ainu.

Model penyimpulan semacam ini ada dua macam, yakni:

1. Deduksi. Dalam penyimpulan deduktif, proses penalaran kita bertolak dari pengetahuan yang bersifat universal menuju pengetahuan yang sifatnya partikular konkrit.

Contoh:

- Televisi publik harus menyajikan acara yang mencerdaskan masyarakat.

- TVRI adalah televisi publik.

- Jadi, TVRI harus menyajikan  acara yang mencerdaskan masyarakat.

2. Induktif. Yaitu proses penyimpulan yang berasal dari dua premis atau lebih menuju kesimpulan yang lebih bersifat umum, bila dibandingkan dengan salah satu atau kedua premisnya.

Contoh:

- Macan, beruang dan serigala adalah pemakan daging.

- Macan, beruang dan serigala adalah binatang buas.

- Jadi, semua binatang buas adalah pemakan daging.


NB: Catatan Kuliah Mata Pelajaran LOGIKA tahun 2021



Komentar

Postingan populer dari blog ini

MERANGKAI DIKSI DI MALAM SUNYI : MELUKIS JEJAK DI BALIK TIRAI KETERBATASAN

TERJEBAK DALAM PERGEMULUTAN HIDUP?

PUISI KUINT