APA ITU KESENIAN GAOK ?

Hallo selamat datang bersama mimin IBS BERCERITA . Hari ini kita akan membahas mengenai Gaok, agak asing sekali ya di telinga sobat, pasti semua akan bertanya-tanya seperti apakah kesenian, keunikan, dan apa sih sebenarnya Gaok itu ? berikut akan mimin  jawab semua pertanyaan dari teman-teman. 
Gaok merupakan kesenian Majalengka yang pemainnya membacakan puisi dengan suara merdu. Puisi tersebut berjudul wawacan. Nama Gaok diambil dari kata ngagorowok yang berarti “berteriak”. Dalam kesenian ini, pemain secara bergiliran melantunkan pupuh (Kinanti, Sinom, Asmarandana dan Dangdanggula) dengan suara nyaring (berteriak), seolah-olah mengumandangkan azan agar orang mengenal kata gaok, yaitu sundan. Biasanya menampilkan cerita dari sastra Jawa, dalam bentuk Wawacan. Biasanya diungkapkan saat merayakan 40 hari kelahiran bayi. Dalam perkembangan masa kini, ternyata kesenian Gaok sedang mengalami kemunduran. Pemain Gaok Gaok mengenakan kostum khas Sunda yaitu baju kampret dan berikat kepala. Selain unsur kebudayaan Islam, unsur kebudayaan leluhur Sunda juga terdapat pada Gaok, berupa ritual leluhur yang berlangsung sebelum dimulainya kesenian Gaok.
                                                                     Gambar: Google

Menurut informasi masyarakat, istilah gaok adalah sebutan untuk kesenian Beluk daerah Majalengka, lahir dan berkembang dari kebiasaan masyarakat pada zaman dahulu yang sebagian besar hidup dengan bertani (bercocok tanam). Pada masa itu, tanpa sengaja masyarakat mempromosikan keindahan suara, yaitu ketika berkomunikasi dari satu orang ke orang lain, yang pada saat itu merupakan hutan belantara Pengertian beluk saat ini umumnya dianggap oleh masyarakat sebagai sebuah pertunjukan seni suara atau vokal yang hanya dilakukan oleh laki-laki yang menggunakan Wawacan tatkala selamatkan bayi. Namun jika kita kembali ke pengertian awal Beluk dalam pertunjukan kesenian saat ini tidak semuanya ditampilkan saat larut malam, jika dipentaskan sepanjang malam. Keluaran dan keluarnya sendiri merupakan dinamika pertunjukan sehingga prtunjukkan tidak monoton jika hanya sekedar menyanyikan Rancag Buhun, pengisi acara daerah Dago bernama Silio. Dapat disimpulkan bahwa uraian Beluk merupakan gambaran post-modern pengaruh Wawacan dari sastra Jawa yang masuk ke Sunda, khususnya melalui para penguasa feodal dan ulama (sekitar pertengahan abad 17). Setelah masuknya pengaruh Wawacan. Bandul digunakan sebagai variasi lagu dalam acara bacaan Wawacan yang dinyanyikan dan di daerah Majalengka.

Menurut yang diungkapkan Engkos Wangsadihardja, keberadaan kesenian Gaok di desa Kulur kabupaten Majalengka sudah ada sejak masuknya pengaruh umat Islam ke wilayah Majalengka. Setelah masuknya Islam yang diperkenalkan oleh Pangeran Muhammad (1490), penyebaran Islam di wilayah ini mampu berkembang lebih cepat dibandingkan tempat lain. Pangeran Muhammad berasal dari Cirebon (Sunan Gunung Jati). Ia menikah dengan Siti Armillah. Cara yang populer adalah melalui penggunaan aksara Wawacan untuk menyampaikan ajaran Islam dalam bentuk kesenian Gaok. Sampai saat ini kesenian tradisional Gaok masih tetap eksis yang berkembang di desa Kulur kabupaten Majalengka sekitar tahun 1920. Gaok merupakan salah satu bentuk kesenian tradisional yang menyelaraskan nilai-nilai budaya suku Sunda Buhun dengan pengaruh Islam yang dibawa dari Cirebon. Pementasannya selalu diawali dengan pembacaan Basmalah, sedangkan bahasa yang digunakan adalah bahasa Sunda. Terkadang sepertinya ada yang sedang mengimandangkan Adzan.

                                                               Gambar: Google

Kegiatan pemujaan leluhur berupa:

1. Parawanten, adalah aneka makanan/minuman kesukaan nenek moyang, seperti Puncak Manik (telur dalam tumpeng), rurujak (kelapa, pisang, rujak asam), bubur merah dengan bubur putih, buah-buahan, terong, kopi asam muda , dawegan, kupat leupout, tantangan angin dan jalan (kue serabi).     
2. Pangradinan, produk kecantikan jaman dulu seperti parfum (minyak wangi), pasta gigi (kapur sirih), minyak kelapa, bunga-bunga, cermin, sisir.
3. Parupuyan adalah perapian 
4. Perlengkapan tambahan adalah alat pengiring, songsong dan buyung yang berfungsi sebagai pengiring pada saat pementasan di akhir lagu/bait atau istilah madakeun/ngagoongkeun.

Penyajian Kesenian Gaok merupakan suatu peraturan yang sudah lama ada, yaitu dalam bentuk sebagai berikut :

1. Etika penyajian, tidak hanya ditampilkan di atas panggung, tetapi juga ditampilkan di tengah rumah/teras, duduk bersila di atas tikar, dipimpin oleh tukang dalang/ilo/pangrawit, tugasnya membacakan kalimat-kalimat dalam kisah yang kemudian harus diulangi oleh penggarap (Tukang) Gaok. Namun yang lebih penting adalah menekankan kepada masyarakat kejelasan aksara Wawacan. Sebab jika kata-kata atau rumpaka disampaikan oleh Tukang Gaok, yang didengar masyarakat bukan lagi kejelasan ejaan (lafal) atau pengucapan kata yang diucapkan melainkan suara penyanyi yang ditekankan.
2. Cara pengulangannya adalah dengan melewati baris demi baris, sementara penonton harus memberi perintah terlebih dahulu.
3. Pemain harus memiliki kualitas suara yang bagus, kualitas suara yang cukup, bernapas dalam-dalam dan menghafal semua bait termasuk cara memainkannya. Dulu jumlah pemainnya 12-13 orang. Saat ini ada sekitar 4-6 pemain Gaok laki-laki yang menjadi pemain mamaos dan seseorang seperti dalang atau pangrawit akan menjadi pemimpinnya. Kisah-kisah yang disajikan di atas selain kisah-kisah Wawacan antara lain kisah Umar Maya, Baejah, dan Sarmun.

Selain berperan sebagai pemain mamaos, setiap pemain juga memainkan alat musik pukul bambu/waditra yang masing-masing diberi nama:

1. Kecrek, gendang bambu atau byung dan gong bambu.
2. Pertunjukan Kesenian Gaok dipimpin oleh seorang dalang/penyanyi. Pembaca wawacan kemudian dibeli oleh juru mamaos (peneliti) dan lain-lain.
3. Pembeli tidak menyebutkan dengan jelas siapa yang hendak membeli kalimat yang dibacakan dalang. Selain pembeli ada juga penggalang yang meninggikan suaranya, jadi persiapan yang paling penting bagi gaok adalah mempersiapkan suaranya dengan lantang agar tidak mengalami sesak nafas. 
4. Waktu penyajian yang tersedia mulai jam 8 malam hingga jam 4 pagi, sepanjang malam. Jika belum selesai, maka akan lanjutkan jika empunya memiliki hak untuk memintanya.

                                                                    Gambar: Google

Teknik pertunjukan Kesenian Gaok adalah sebagai berikut:

1. Salam dari pemilik untuk mendoakan pemiliknya. 
2. Pidato dari tokoh masyarakat.
3. Sebelum Dalang Gaok menceritakan kisahnya, periksa dulu perlengkapan Dalang. 
4. Membaca doa dengan membakar dupa. Sebagai tujuan meminta kepada pencipta ungkapan meminta maaf para leluhur jika sesajen tidak lengkap dan meminta untuk hadir dalam upacara pemujaan.
5. Pidato (prolog) Pidato Dalang.
6. Tukang Gaok/pembeli menyanyikan baris demi baris (bernyanyi).
7. Diakhir diiringi allok bertempo cepat yang berpedoman pada fungsi bayung dan songong, digunakan sebagai madakan atau gongongong   
8. Tema sesuai dengan tujuan penyajian awal
9. Saat penutup di Akhiri dengan permintaan maaf dan ucapan terima kasih


Bagaimana pendapat kalian setelah membaca arti dari seni pertujukkan seni Gaok? apakah tetap tertarik untuk melihat dan menjaganya atau tetap memilih diam seribu bahasa dengan konsekuensi kearifan lokal terkhusus budaya dari para dalang /pangrawitan akan hilang untuk selamanya. Jangan lupa ya jawabannya bisa di chat di akun mimin di kolom komentar atau kirim aja email 1maculata.batique@gmail.com. Selain ini juga ada topik pembahasan mengenai budaya alat tradisional yang hampir punah. Penasaran ?? tunggu aja update terbarunya. Sekian pertemuan kita hari ini bersama sobat IBS BERCERITA. Terima kasih.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

LARIK WAKTU : LEBIH DARI SEKEDAR PUISI

TERJEBAK DALAM PERGEMULUTAN HIDUP?

MERANGKAI DIKSI DI MALAM SUNYI : MELUKIS JEJAK DI BALIK TIRAI KETERBATASAN