SALAM TERAKHIR

 

Semua orang ingin menjadi yang sempurna. Baik dari penampilan, kepintaran, kemandirian, rasa tanggung jawab sehingga membuat kita terpesona ketika melihat dirinya. Hal ini di dukung ketika usia  sudah memasuki massa dewasa di mana waktunya untuk hidup mandiri. Meninggalkan orang yang kita sayang  ( orang tua ) untuk bersama pasangan untuk kehidupan selanjutnya.

Pasti banyak kenangan akan terlintas di dalam diri kita. Saat masih kecil bersama orang tua menikmati hidup dengan bersekolah, bermain dan melakukan aktivitas yang kadang membuat suasana hati atau hari bahagia dan sedih.

Saat massa remaja yang kita lakukan dengan berteman,bersahabat dan melanjutkan semua dalam cinta atau yang di sebut pacaran. Setelah proses ke tiga dirasa cukup matang maka kita melakukan jenjang serius melalui lamaran atau langsung menikah. Dari sekilas perjalanan cinta, maka akan muncul kata “ hidup ini jangan berhenti bila aku mati sebab ku sangat mencintaimu “ .

Itulah semua metamorfosa diri kita. Setelah lama hidup bersama orang tua kita akan melakukan perkawinan. Dalam perkawinan juga tidak sembarangan mengambil keputusan secara sepihak. Pasti kita membutuhkan saran dan kritikan dengan siapa, kapan, bagaimana susunannya saat menikah dan apa yang akan dilakukan. Semua itu butuh waktu dan proses, tak mudah seperti mengembalikan tangan.

Ketika sah  menjadi pasangan,  hidup juga tak selalu manis, gula. Kadang seperti cuka yang asam, namun itu semua tantangan akan perjalanan cinta. Walau perasaan itu muncul dan sakit hati namun akan kembali normal sebab “satu yang tak bisa lepas dari perasaan saling mencinta”.

Perasaan yang tak bisa di gantikan karena terikat oleh waktu kadang membuat semua penuh misteri. Apalagi bila pasangan kita anggap sebagai seseorang yang sempurna. “ Segala kekurangan dan kelemahan kita jadikan cinta, tanpa itu kita tak bisa berjalan menjadi cinta sejati. 

 

Namun semakin lama cinta kita jalankan bersama, maka usia juga ikut bertambah. Apalagi dalam kehadiran kita didunia menunjukkan janji akan kematian yang tak dapat kita mengerti kapan dan bagaimana kejadiannya. Disinilah kita harus mengerti arti cinta, menanti di ujung waktu sebelum maut menjemput.

Bila mana maut telah datang, jangan sampai kita sakiti cinta dari hati sebab kata sebelum dia pergi merupakan salam terakhir dalam hati yang  membuat kuat walau terasa hancur. Karena kita harus terpisah dan melanjutkan perjalan kisah cinta tanpa pasangan.

Janganlah bersedih bila kita ditinggalkan orang tersayang sebab  “ Hati penuh sukacita dan alam semesta..... semakin menyadari kita ini milik sang pencipta.... Tetap bersyukur dalam segala hal”.

Demikian cerita singkat yang mengingatkan kita akan sapaan,salam dan apapun itu janganlah kita buang dengan ketidak pedulian bersama pasangan. Sebab semua itu di peroleh bukan dengan Cuma-Cuma melainkan keseriusan serta tanggung jawab.

“ Salam terakhir bisa datang kapan saja tanpa mengenal waktu sebab kematian tak terjadwal namun menunggu “ . Salam IBS.



gambar : Dokumen Pribadi 2020


Komentar

Postingan populer dari blog ini

LARIK WAKTU : LEBIH DARI SEKEDAR PUISI

TERJEBAK DALAM PERGEMULUTAN HIDUP?

MERANGKAI DIKSI DI MALAM SUNYI : MELUKIS JEJAK DI BALIK TIRAI KETERBATASAN