AROMA CANGKIR YANG BERBEDA



Dokumentasi: Imaculata Budi Setyawati bantuan AI
Dari gambar ini, bisa di lihat bahwa Shanti bekerja di Toko Bangunan dan Maya sebagai Karyawan

Pagi itu, Maya melihat layar ponsel menyala sejak pukul tujuh pagi, menampilkan rentetan pesan dari Shanti. Dengan menatap tiga butir kapsul di telapak tangannya, Maya serasa hari ini tubuhnya sedang tidak bersahabat. Tekanan darahnya sering merosot, dan maag kronisnya sempat membuat ia terbaring di bangsal rumah sakit bulan lalu. Dokter berpesan dengan sangat tegas: makan tepat waktu, tiga kali sehari, porsi sedang, dan jangan biarkan lambung kosong karena ada obat dosis besar yang harus masuk setiap harinya.

Selain memikirkan kesehatannya, Maya juga sedang mempersiapkan laporan kerja yang banyak dan harus dikerjakan sesuai deadline atasan. Hal ini membuatnya capek dan sering sakit.

Saat Maya hendak meneguk air putih,  Sebuah pesan masuk dari sahabat lamanya, Shanti.

“Hai Maya, apa kabar?”

Maya tersenyum, meletakkan cangkirnya, lalu mengetik balasan.

“Hai Shanti. Kabarku baik. Maaf ya baru balas. Kabarmu sendiri bagaimana?”

Balasan Shanti datang begitu cepat, seolah ia memang sudah menunggu di seberang layar. Namun, isi pesannya langsung mengubah atmosfer pagi yang tenang itu menjadi  zona ketegangan.

“Baik, May. Aku sekarang sedang dalam masa tirakat puasa penuh untuk persiapan membalikkan rencana kekuatan kegelapan kosmik yang puncaknya terjadi akhir bulan depan. Hari ini tepat hari pertama dari puasa dan doa 40 hari sebelum hari-H. Kalau hatimu tergerak, yuk ikut mendoakan lewat gerakan ini. Caranya bebas, pakai cara komunitas yang kamu ikuti juga boleh, yang penting satu tujuan.”

Maya menarik napas dalam. Ia tahu Shanti belakangan ini sangat mendalami sebuah komunitas spiritual intens dengan jalur bukan lagi nasional sampai internasional yang berfokus pada peperangan energi.

“Semoga tirakatmu lancar ya, Shan,” balas Maya.

“Semua niat baikmu semoga terwujud. Tapi maaf sekali, aku belum bisa ikut puasa karena kondisi fisikku harus terus konsumsi obat dari dokter. Paling aku hanya bisa mengambil pantang beberapa hal kecil yang tidak mengganggu jadwal makan.”, kalimat yang ku kirim, agar aku bisa kembali bekerja.

Di luar dugaan, Shanti langsung mendebat.

“Bukannya aturan puasa  itu sangat ringan? Cuma mengurangi porsi makan. Di samping itu, misal kita makan setengah porsi atau tiga perempat porsi juga bisa, kan?”

Pesan Shanti terus beruntun tanpa jeda.

“Tapi kalau memang porsinya harus penuh karena kondisi kesehatan yang bener-bener enggak boleh puasa dalam bentuk ringan sekalipun, aku sarankan bantu dalam bentuk pantang. Itu pun kalau kamu tergerak hati, ya.” jawab Shanti.

Maya merasa dadanya sedikit sesak. Ia merasa Shanti meremehkan perjuangan fisiknya. Maya pun mencoba menjelaskan dengan jujur.

“Memang betul hanya dikurangi. Tapi sakit darah rendah kalau makannya kurang sedikit saja sering kambuh. Badanku jadi enggak stabil. Apalagi sehari harus enam kali minum obat, bisa kena ginjal kalau dipaksakan. Kemarin aku sampai rawat inap karena asam lambung parah, Shan. Jadi dokter menyarankan tetap makan tiga kali sehari.”

Bukannya melunak atau menunjukkan simpati, Shanti justru beralih ke narasi yang lebih ekstrem. Layar ponsel Maya dipenuhi rentetan paragraf panjang tentang konspirasi global, ritual gelap terselubung di sebuah festival daerah, simbol-simbol kuno yang dituduh membuka portal gaib, hingga kematian penonton di konser-konser musik populer, calon anak-anak dalam rahim yang harus dilahirkan secara paksa hingga menimbulkan aborsi besar yang Shanti klaim sebagai tumbal terselubung.

“Peran kita sebagai orang yang tahu kenyataan ini apa? Apa kita hanya mau diam sementara kuasa kegelapan gencar menjaring jiwa? Bahkan mereka buka portal di sana-sini!” tulis Shanti berapi-api.

”Ada pepatah bijak yang bilang, hal besar seperti ini tidak bisa diatasi tanpa berpuasa. Apakah kita mau nunggu perintah dari pemimpin atau tetua dulu baru mau bertindak? Bumi ini milik kita, kita diserahi mandat untuk menjaganya!”, jawab Shanti dengan nada semakin tidak enak untuk ditanggapi.

Maya tertegun. Ia menghargai semangat Shanti, namun cara Shanti memaksa seolah-olah siapa pun yang tidak ikut berpuasa dengan caranya adalah orang yang abai dan pengecut. Maya mencoba memberikan sudut pandang yang ia pelajari dari mentornya sendiri.

“Kalau yang aku pelajari, intinya kita justru disarankan untuk menjaga pikiran dan hati agar tidak fokus pada ketakutan akan hal-hal gelap itu. Kita diminta fokus pada doa kedamaian batin dan pikiran positif agar hal negatif tidak punya celah untuk masuk ke pikiran kita. Kita diajarkan menanggapi dunia luar dengan ketenangan. Dan untuk kondisi sekarang, menjaga kesehatan tubuh ini adalah bentuk kontribusi terbaik yang bisa aku lakukan.”, jawab Maya dengan sopan.

Shanti tampaknya kehilangan kesabaran. Baginya, jawaban Maya adalah bentuk pelarian.

“Kenapa kok enggak boleh tahu kenyataan tentang sisi gelap? Kalau enggak boleh, kenapa sekarang banyak mentor dan pembicara yang mulai membongkar kasus-kasus ini terang-terangan? Mungkin zaman dulu relevan kita menutup diri. Tapi sekarang kenyataan sudah dibongkar! Apakah kalau kita tahu akan terjadi hal buruk, kita membiarkannya begitu saja?”

Shanti terus memberondong.

“Kita memang enggak datang ke tempat ritual itu. Tapi apa aksi kita? Kalau beberapa orang berkumpul dengan niat baik, di situ kekuatan positif akan hadir. Aku enggak lagi ngajak kamu komentar di media sosial atau mengkritik pihak berwenang. Hati-hati, May, kamu bisa terjatuh dalam sikap hati yang salah, sesat pikir yang tentu saja keliru.”

Beberapa menit berlalu. Maya sengaja tidak langsung membalas. Ia ingin mendinginkan suasana. Namun, Shanti tampaknya mengartikan keheningan Maya sebagai sebuah penolakan mutlak. Sebuah notifikasi pesan suara (voice note) berdurasi panjang muncul, diikuti teks yang kian menajam.

“Jujur aku miris melihat tanggapanmu. Seharusnya kamu itu tidak hanya ”makan catatan buku” aja. Kamu menilai apa yang aku lakukan ini salah, padahal aku mengajakmu berpuasa dan berdoa untuk menggagalkan hal buruk dengan cara yang terarah, bukan mengajakmu ikut aliran sesat. Tapi kalau kamu merasa tidak tergerak dan sama sekali tidak mau ikut ya tidak apa-apa, itu kebebasanmu.”, jawab Shanti dengan nada yang  tidak enak.

Belum dijawab oleh Maya, Shanti sudah mengirimkan pesan kembali

” Wajar sih, ini memang hal baru buatmu. Tapi aku ini sudah bertahun-tahun ikut sertifikasi dan pelatihan internal dari tingkat Nasional hingga  Internasional, dari zaman lembaga lamanya sampai yang sekarang diperbarui resmi. Di berbagai seminar dan training intensif yang kuikuti, kami diajari teknik membongkar strategi lawan secara presisi. Aku mengerti anatomi masalah ini karena aku punya dasarnya, bukan cuma ikut-ikutan secara pasif." Jawab Shanti dengan kesombongannya menjelaskan apa saja pelatihan dasar yang pernah ia ikuti itu berbobot dibandingkan doa di dalam kamar dengan pintu tertutup.

“Aku pun punya komunitas. Kami berkomitmen, ada doa harian, meditasi, dan pertemuan rutin. Tapi aku paham dalam situasi tertentu diperlukan perjuangan batin yang tidak bisa hanya dari kebiasaan yang biasa-biasa saja. Makanya ada momen khusus karena ada situasi khusus yang butuh energi besar.”, jawab Shanti dengan metode marah-marah.

“Tadinya aku mau bagikan draf doa-doa khusus yang sudah disusun rapi oleh komunitas kami. Tapi kalau tidak berminat, aku tidak memaksakan. Silakan menikmati hidup dan tetap stoik atau mindfulness, padahal kita sebenarnya bisa bertindak.”, jawabnya kembali.

Sarkasme itu belum berhenti. Shanti mengirimkan pesan penutup yang sarat ego yang terluka.

“Coba kamu tanyakan saja ke gurumu  yang kamu puja-puja itu, yang kamu bilang ajarannya menyatakan bahwa aksi puasa yang aku ajak ini salah. Kamu tanyakan begini ke dia: ‘Guru, kalau kita tahu kelompok gelap akan melakukan gerakan merugikan di seluruh dunia, apakah teman saya salah kalau mengajak  puasa bersama dengan caranya?, sementara saya belum boleh ikut puasa karena sakit.’ Coba tanyakan saja kalau menurutmu aku yang salah.”, pernyataan sekaligus jawaban Shanti  agar Maya tergerak mengikuti ajakannya.

“Silakan kembali bekerja. Maaf sudah mengganggu waktumu yang berharga. Nanti saja kalau kamu sudah ada waktu, baru dengarkan rekaman suara yang aku kirim ini ya. Jangan langsung dijawab sekarang.”, jawabnya kembali dengan ego yang tidak mau kalah.

Maya menatap layar ponselnya yang perlahan meredup. Ruangan itu kembali hening. Ia melihat pesan suara Shanti yang menggantung di sana, siap melontarkan lebih banyak kalimat penghakiman jika ia putar.

Maya menarik napas dalam-dalam, lalu mengembuskannya dengan perlahan. Ia memutuskan untuk tidak memutar rekaman suara  sampai habis , tidak hari ini, mungkin juga tidak untuk seterusnya.

Dengan tangan yang tenang, ia meletakkan ponselnya jauh-jauh. Ia mengambil gelas air putihnya, lalu meminum ketiga butir obatnya satu per satu. Maya tersenyum tipis. Ia menyadari satu hal: ”Menjaga tubuh yang rapuh ini dengan penuh tanggung jawab adalah bentuk pengabdiannya yang paling nyata pagi ini. Menjaga kedamaian di dalam hatinya sendiri, ternyata jauh lebih penting daripada ikut menyelamatkan dunia dalam kemarahan orang lain.”

 Setelah itu Maya membuka postingan di media sosial yang bertuliskan ”Rendah hati itu karakter, tapi menolak diinjak-injak adalah prinsip. Lembut bukan berarti lemah, sopan bukan berarti bisa ditindas. Hargai dirimu sendiri karena kebaikanmu terlalu berharga untuk orang yang tidak tahu cara menghargai.”

*Cerita ini merupakan kisah nyata, nama dan tempat disamarkan demi bacaan yang bermanfaat.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

MERANGKAI DIKSI DI MALAM SUNYI : MELUKIS JEJAK DI BALIK TIRAI KETERBATASAN

MEMBUNGKUS RIUHNYA KEDEWASAAN : SELIMUT ASMARA DALAM RELUNG TANPA AMPUN

TERJEBAK DALAM PERGEMULUTAN HIDUP?