PUISI PATIDUSA
Puisi Patidusa bukanlah puisi pemenggalan kalimat
. Baris baitnya saling melengkapi satu sama lain seakan memiliki makna mandiri yang menjelaskan atau dijelaskan oleh baris sesudah atau sebelumnya . Hindarilah kata hubung pada kalimat akhir baris karena akan menimbulkan konotasi pemenggalan kalimat yang menggantung makna
. => Contoh salah :
Aku
Diam terpaku
Pada saat itu
Rasa sakit menindas kalbu
Kalimat puisi di atas adalah seolah dipaksakan untuk berformat patidusa dan bisa dipanjangkan
. Patidusa tidak menggunakan tanda elipsis pada puisinya dan digantikan dengan tanda koma (,) saja
. Pada pengulangan kata sempurna dan atau yang berawalan depan, dihitung 1 kata majemuk
. => Contoh :
Awan-awan
Angin-angin
Orang-orang
Boleh juga ditulis tanpa tanda hubung atau sesuai ketertiban dan keindahan tulisan saja
. Awanawan
Anginangin
Orangorang
Q N A
1. Q = Apakah dalam penulisan seperti ini: awanawan dsb, harus pengulangan kata?
A = Tidak harus jika kalimatnya kurang pas.
Untuk penulisan kata berulang memang seperti itu
Jika tidak menggunakan tanda hubung dalam puisi Patidusa tetap bermakna sama
2. Q = Apa sih yang membedakan puisi patidusa asli, bias, cemara serta tangga?
A = Perbedaan ke-empat jenis puisi patidusa bisa dilihat dari angka formasinya
Lebih jelasnya,
• | Patidusa Asli dan Bias
-> jumlah kata diawal baris pada bait sama dengan jumlah kata di baris terakhir pada bait
Patidusa Asli 4 - 3 - 2 - 1, 1 - 2 - 3 - 4, dsb.
Patidusa Bias 1 - 2 - 3 - 4, 4 - 3 - 2 - 1, dsb.
Patidusa Cemara dan Tangga
jumlah kata di baris pertama setiap bait sama (runtut)
Patidusa Cemara 1 - 2 - 3 - 4, 1 - 2 - 3 - 4, dsb.
Patidusa Tangga 4 - 3 - 2 - 1, 4 - 3 - 2 - 1, dsb.
3. Q = Bagaimana strategi yang harus digunakan penulis agar makna atau pesan pada puisi liptdus tersampai kepada pembaca, mengingat bahwa kalimat pada baris puisi sangatlah singkat
A = Begini, puisi patidusa memang singkat namun dalam merangkainya juga harus memuat nilai plus baik dimata penulis atau pembaca agar punya makna yang menarik dan tersirat
Dengan menambahkan sedikit diksi dan memilih kata yang pas sesuai ketentuan dan tema maka puisi patidusa akan terlihat lebih cantik
4. Q = Mengenai ketentuan puisi Patidusa yang tidak terdapat kata dengan tanda elipsis, itu maksudnya bagaimana ya,Apa seperti ini?
Aku,
Bukan
Aku ...
Seperti itukah?
A = Ya, betul
Dalam puisi patidusa, tanda elipsis (...) diganti dengan koma (,) saja agar terlihat lebih indah seperti contoh.
5. Q = Kenapa puisi patidusa tidak menggunakan tanda elipsis?
A = Iya Bentuk puisi ini tidak pas jika menggunakan tanda elipsis (...) lebih tepat menggunakan koma (,) karena jika menggunakan tanda elipsis tidak akan menciptakan keindahan dalam puisi tersebut
Komentar
Posting Komentar