PUISI PATIDUSA

A. Arti puisi Patidusa
Patidusa adalah bentuk puisi tradisional Indonesia, khususnya dari Jawa dan Bali. Secara harfiah, "pati" berarti mati dan "dusa" berarti dosa atau kesalahan. Maknanya mengarah pada penyesalan atau pengakuan atas kesalahan. Sejarah patidusa tidak terdokumentasi secara pasti, namun diyakini telah ada sejak lama dalam tradisi lisan masyarakat Jawa dan Bali. Puisi ini menjadi bagian dari cara menyampaikan pesan moral dan nilai-nilai kehidupan secara ringkas dan berkesan.

Selain itu Puisi Patidusa merupakan singkatan dari empat tiga dua satu. Pada tanggal 9 Agustus 2015 awal terciptanya sebuah puisi genre yang bertajuk Puisi Patidusa.

B. Ciri-ciri utama puisi patidusa 
Adalah terdiri dari empat baris (larik) dalam setiap baitnya. Setiap baris umumnya memiliki 
Jumlah suku kata yang tetap, meskipun tidak seketat pantun. Rima akhir patidusa biasanya a-b-a-b. Isi puisi patidusa seringkali berupa nasihat, permohonan maaf, atau refleksi diri atas perbuatan yang kurang baik.

C. Langkah membuatnya sederhana:
1. Tentukan tema penyesalan atau pengakuan kesalahan.
2. Buat empat baris yang saling berkaitan maknanya.
3. Usahakan setiap baris memiliki jumlah suku kata yang hampir sama.
4. Atur rima akhir menjadi a-b-a-b.

D. Contoh
1.Lelampahan kala wengi,(Perjalanan di kala malam,)
2. Ati bingung tanpa arah, (Hati bingung tanpa arah,)
3. Gusti mugi ngampuni, (Ya Tuhan semoga mengampuni,)
4. Dosa kula ingkang salah. (Dosa saya yang salah.)

E. Jenis
1. Patidusa Asli/Original pola (4-3-2-1, 1-2-3-4, 4-3-2-1, dst)
2. Patidusa Bias (1-2-3-4, 4-3-2-1, 1-2-3-4, dst)
3. Patidusa Cemara (1-2-3-4, 1-2-3-4, 1-2-3-4 dst.)
4. Patidusa Tangga (4-3-2-1, 4-3-2-1, 4-3-2-1 dst)

F. Ketentuan

  1. Puisi Patidusa bukanlah puisi pemenggalan kalimat. Baris baitnya saling melengkapi satu sama lain seakan memiliki makna mandiri yang menjelaskan atau dijelaskan oleh baris sesudah atau sebelumnya.

  2. Hindarilah kata hubung pada kalimat akhir baris karena akan menimbulkan konotasi pemenggalan kalimat yang menggantung makna.

    => Contoh salah :

    Aku

    Diam terpaku

    Pada saat itu

    Rasa sakit menindas kalbu

    Kalimat puisi di atas adalah seolah dipaksakan untuk berformat patidusa dan bisa dipanjangkan.

  3. Patidusa tidak menggunakan tanda elipsis pada puisinya dan digantikan dengan tanda koma (,) saja.

  4. Pada pengulangan kata sempurna dan atau yang berawalan depan, dihitung 1 kata majemuk.

    => Contoh :

    • Awan-awan

    • Angin-angin

    • Orang-orang

    Boleh juga ditulis tanpa tanda hubung atau sesuai ketertiban dan keindahan tulisan saja.

    • Awanawan

    • Anginangin

    • Orangorang

Q N A

1.  Q = Apakah dalam penulisan seperti ini: awanawan dsb, harus pengulangan kata?

     A = Tidak harus jika kalimatnya kurang pas.

Untuk penulisan kata berulang memang seperti itu

Jika tidak menggunakan tanda hubung dalam puisi Patidusa tetap bermakna sama


2. Q = Apa sih yang membedakan puisi patidusa asli, bias, cemara serta tangga?

    A = Perbedaan ke-empat jenis puisi patidusa bisa dilihat dari angka formasinya 

Lebih jelasnya,

• | Patidusa Asli dan Bias

-> jumlah kata diawal baris pada bait sama dengan jumlah kata di baris terakhir pada bait

Patidusa Asli 4 - 3 - 2 - 1, 1 - 2 - 3 - 4, dsb.

Patidusa Bias 1 - 2 - 3 - 4, 4 - 3 - 2 - 1, dsb.

Patidusa Cemara dan Tangga

jumlah kata di baris pertama setiap bait sama (runtut)

Patidusa Cemara 1 - 2 - 3 - 4, 1 - 2 - 3 - 4, dsb.

Patidusa Tangga  4 - 3 - 2 - 1, 4 - 3 - 2 - 1, dsb.


3.  Q = Bagaimana strategi yang harus digunakan penulis agar makna atau pesan pada puisi liptdus tersampai kepada pembaca, mengingat bahwa kalimat pada baris puisi sangatlah singkat.

    A = Begini, puisi patidusa memang singkat namun dalam merangkainya juga harus memuat nilai plus baik dimata penulis atau pembaca agar punya makna yang menarik dan tersirat

Dengan menambahkan sedikit diksi dan memilih kata yang pas sesuai ketentuan dan tema maka puisi patidusa akan terlihat lebih cantik

4.  Q = Mengenai ketentuan puisi Patidusa yang tidak terdapat kata dengan tanda elipsis, itu maksudnya bagaimana ya,Apa seperti ini?

Aku,

Bukan

Aku ...

Seperti itukah?

A = Ya, betul 

Dalam puisi patidusa, tanda elipsis (...) diganti dengan koma (,) saja agar terlihat lebih indah seperti  contoh.

5.   Q = Kenapa puisi patidusa tidak menggunakan tanda elipsis?

     A = Iya  Bentuk puisi ini tidak pas jika menggunakan tanda elipsis (...) lebih tepat menggunakan koma (,) karena jika menggunakan tanda elipsis tidak akan menciptakan keindahan dalam puisi tersebut


Komentar

Postingan populer dari blog ini

MERANGKAI DIKSI DI MALAM SUNYI : MELUKIS JEJAK DI BALIK TIRAI KETERBATASAN

MEMBUNGKUS RIUHNYA KEDEWASAAN : SELIMUT ASMARA DALAM RELUNG TANPA AMPUN

TERJEBAK DALAM PERGEMULUTAN HIDUP?